Kembali Datangi Butik Gaun Pengantin, Ayu Ting Ting Tepergok Fitting Baju Ditemani Ayah Ozak dan Umi Kalsum

Pedangdut Ayu Ting Ting akhir-akhir ini dikaitkan dengan sejumlah pria mulai Ivan Gunawan hingga Sahrul Gunawan.

Mantan istri Enji Baskoro itu pun kerap membeberkan hubungannya dengan sejumlah pria tersebut.

Namun baru-baru ini, bersama Abdul Rozak (Ayah Ozak) dan Umi Kalsum, Ayu Ting Ting mendatangi butik gaun pengantin.

Bahkan, artis yang batal menikah dengan Adit Jayusman itu juga tepergok fitting baju di sana.

Adanya momen itu bahkan dibagikan Ayu Ting Ting dalam akun Instagram pribadinya @ayutingting92.

Dalam video yang diunggah ulang akun Instagram-nya, terlihat di belakang Ayu Ting Ting banyak gaun pengantin yang sudah terpajang.

Ayu Ting Ting pun kemudian melakukan pengukuran baju di badannya ditemani kedua orang tuanya, Umi Kalsum dan Abdul Rozak atau Ayah Rozak.

Adi Rustana yang ditunjuk sebagai seniman atau MUA yang Ayu Ting Ting percayai pun membagikan momen ukur baju tersebut.

“Ada apa ya sudah ngukur lagi?” ujar Adi Rustana sambil menggoda Ayu Ting Ting yang sedang sibuk diukur, seperti dikutip dalam Instagram Story @ayutingting92 pada Jum’at, 8 Oktober 2021.

Hal itu pun lantas menjadi pertanyaan besar terkait pernikahan Ayu Ting Ting.

“Ayah, udah siap mantu ayah?” tambah Adi Rustana.

Ayu Ting Ting Fitting baju di Butik Gaun Pengantin

Mendengar celetukan Adi Rustana, sontak Abdul Rozak dan Umi Kalsum yang berada di hadapan Ayu Ting Ting pun tertawa.

Abdul Rozak kemudian memohon doa kepada Adi Rustana agar segala sesuatunya menjadi lancar.

“Doain ya a, biar lancar,” kata Ayah Rozak.

Ibunda Ayu Ting Ting, Umi Kalsum pun kemudian mengaminkan perkataan suaminya tersebut.

Ayu Ting Ting Fitting baju di Butik Gaun Pengantin

Belakangan ini, beredar rumor bahwa Ayu Ting Ting tengah dekat dengan Wakil Bupati Bandung, Sahrul Gunawan.

Sayangnya, Ayu Ting Ting mengaku kaget mendengar rumor tersebut.

Ayu Ting Ting menungkapkan hal tersebut saat ia hadir disebuah acara yang dipandu oleh Rulyabii Margana dan Conchita Caroline.

“Bu Ayu ini sedang dekat dengan artis senior yang sekarang sedang menjabat jadi Wakil Bupati di Bandung bener nggak tuh? Inisialnya adalah Sahrul Gunawan,” tanya Rulyabii pada Atu Ting Ting.

“Aku aja baru tahu dari kalian,” sahut Ayu Ting Ting dengan wajah terkejut, dilansir Tribun Style dari YouTube MOP Channel pada Senin, 4 Oktober 2021.

“Ini benar nggak sih bu Ayu? Terakhir ketemu kapan memangnya?” sambung Conchita ikut bertanya.

Seolah menepis kabar yang beredar, Ayu Ting Ting pun mengatakan dia belum pernah menjalin komunikasi dengan Sahrul Gunawan.

“Ya ampun nggak pernah ketemu, nggak pernah berkomunikasi,” jawab Ayu Ting Ting.

“Aku aja kaget dari kalian maksudnya baru tahu,” katanya.

Tidak hanya itu penyanyi lagu Sambalado tersebut juga mengatakan ia sangat kaget mendengar rumor tersebut.

Bahkan ia mengaku syok saat nama Sahrul Gunawan mendadak dikaitkan dengannya.

“Gue syok, kaget tiba-tiba dibilang sama Sahrul Gunawan,” pungkas Ayu ing Ting memberikan penegasan.

Menjadi Janda, Haruskah Menikah Lagi?

Banyak kita jumpai seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, sehingga akhirnya menjadi janda dan harus merawat anak-anaknya sendiri.

Dalam kondisi semacam ini, manakah yang lebih utama bagi wanita tersebut, tidak perlu menikah lagi sehingga bisa fokus merawat anak-anaknya, atau lebih utama bagi mereka untuk menikah lagi?

Yang lebih utama bagi wanita tersebut itu berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing wanita tersebut.

Jika wanita tersebut masih muda, masih memiliki syahwat biologis, khawatir terjadi fitnah pada dirinya (yaitu zina), dan masih membutuhkan suami yang bisa menjaga kehormatannya dan mencegahnya dari zina.

Maka dalam kondisi semacam ini, hendaknya wanita tersebut menikah dengan seseorang yang bisa menjaganya dan bisa mewujudkan kebaikan bagi dirinya dan anak-anaknya.

Demikian juga jika wanita tersebut tidak mampu membesarkan atau merawat anak-anaknya sendiri. Namun hal ini tentunya perlu dikomunikasikan dengan calon suami karena pada asalnya, suaminya yang baru tersebut tidak memiliki kewajiban untuk menafkahi anak-anaknya dari mendiang suaminya.

Dalam hal ini, perlu dibuat perjanjian dengan calon suami agar tidak dipisahkan dari anak-anaknya setelah menikah dan calon suami bersedia merawat anak-anaknya secara bersama-sama.

Adapun jika wanita tersebut sudah cukup tua, tidak lagi memiliki hasrat atau kebutuhan terhadap laki-laki, atau jika menikah justru akan menyibukkan dirinya sehingga tidak optimal dalam merawat anak-anaknya, atau justru anak-anaknya akan menjadi terlantar.

Atau jika wanita tersebut tidak bisa menggabungkan antara hak suami dan hak anak-anaknya, baik dalam hal perhatian dan kasih sayang, maka dalam kondisi semacam ini wanita tersebut boleh untuk tidak menikah lagi dan tetap bertahan merawat anak-anaknya sendiri. Semoga wanita tersebut mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah Ta’ala.

Gambaran kasus semacam ini kita jumpai pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahkan terdapat hadits yang berisi pujian kepada wanita yang rela bertahan menjanda karena sibuk merawat anak-anaknya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik wanita yang menaiki unta adalah wanita-wanita shalihah dari orang Quraisy, yaitu wanita yang demikian sayang kepada anak di masa kecilnya sang anak dan wanita yang paling perhatian dalam menjaga harta suami.” (HR. Bukhari no. 5082 dan Muslim no. 2527)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Demikian sayang terhadap anak yatim di usia kecilnya.”

Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan kisah awal mula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di atas. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika melamar sepupunya, Ummu Hani’ binti Abu Thalib. Ummu Hani’ berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sudah tua dan aku memiliki anak-anak.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik wanita yang menaiki unta adalah .. “ kemudian beliau mengucapkan hadits di atas. (HR. Muslim no. 201)

Dalam hadits di atas, Ummu Hani’ menolak lamaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan alasan ingin berkonsentrasi dalam mengurus anak-anak. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Ummu Hani’ dengan hadits di atas.

Dalam hadits di atas, terdapat lafadz أَحْنَاهُ (sangat sayang) yang berasal dari kata الحانية (haniyah). An-Nawawi rahimahullah menjelaskan pengertian “haniyah”,

“Yang dimaksud “haniyah” (sangat sayang) terhadap anak-anaknya adalah wanita yang mengurusi anak-anak mereka setelah menjadi yatim, sehingga wanita tersebut tidak menikah lagi. Apabila dia menikah lagi, maka tidak lagi disebut “haniyah”. Hal ini dikutip dari Al-Harawi.” (Syarh Shahih Muslim, 5/388)

Akan tetapi, hal ini tidaklah bersifat mutlak. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Ummu Salamah setelah beliau berstatus janda dan memiliki anak-anak.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Khathib bin Abi Balta’ah untuk melamarku. Aku berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku memiliki anak dan aku juga seorang pencemburu.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Adapun anak-anaknya, kami berdoa kepada Allah agar mencukupinya. Dan aku berdoa kepada Allah Ta’ala untuk menghilangkan cemburu yang berlebihan.” (HR. Muslim no. 918)

Demikian pula, Asma’ binti ‘Umais radhiyallahu ‘anha menikah lagi dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu setelah ditinggal mati suaminya, Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Kemudian, beliau menikah lagi dengan ‘Ali sepeninggal Abu Bakr radhiyallahu ‘anhum.

Kesimpulan, masalah ini (menikah lagi atau tidak ketika menjadi janda dan memiliki anak) itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi masing-masing wanita tersebut. Dalam kondisi tertentu, bisa jadi menikah itu lebih utama. Wallahu Ta’ala a’lam.

Sumber: Banjarmasinpost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *